Postingan

Selamat Ulang Tahun

Gambar
Namanya Robi Yasman. Aku memanggilnya Bang Robi. Tepat di hari ini, usianya mencapai seperempat abad. Setahun lebih satu bulan jarak usianya denganku. Karena itulah aku memanggilnya abang, selain memang karena aku anak yang sopan dan ramah. Kadang-kadang aku juga suka memanggilnya Bang Irob kalau aku bosan menyebut Bang Robi. 

Annisa dan Rumah Lereng yang Dirindukan*

Gambar
*meminjam sepenggal judul tulisan Haris sebelumnya             Nilai bau Hanifah Rahmatul Annisa sore ini berkisar 97,5. Tinggal 2,5 poin lagi untuk membuat seisi tempat ini tak sadarkan diri alias pingsan berjamaah. Seloroh Papa sambil mengibas-ngibaskan tangan sembari menjauhi Nisa yang masih asyik dengan mainannya. Aku dan Mama sontak terbahak sedang   Nisa cuek saja seperti tak terjadi apa-apa. Dia masih sibuk dengan mainannya. Adikku yang paling kecil ini, entah meniru kebiasaan kakaknya yang mana (bukan aku tentunya, wkwkwk). Tak lama, suara Annisa terdengar juga, “Isya sudah mandi tadi pagi, masih harum,” dalihnya sambil tertawa cekikikan. 

Seribu Tujuh Ratus Enam Puluh Dua

Gambar
            Seribu tujuh ratus enam puluh dua adalah jumlah hari, kala kau tambah aku sama dengan kita. Kau menghentikan usia hari “kita” di angka tak cantik yang perlu dua sampai tiga kali kupastikan kepada orang yang bertanya. Mereka sering terbalik-balik mengeja angka. Remuk rasanya mengingat 10 hari lagi menggenapi 5 tahun bukanlah kau tambah aku menjadi kau kau, aku aku. Biasanya di hari jadi kita, kita merayakannya dengan bertukar pikiran tentang apa kekurangan kita pada hari atau bulan sebelumnya. Berdoa agar hubungan ini layaknya jalan TOL, bebas hambatan. Ini hanya break sejenak, aku berharap. Mungkin kau hanya jenuh dengan aku yang terlalu setia. Kata orang, lelaki setia sangat membosankan. Tapi ternyata tidak. Kau menyudahi kalimat istirahat dengan tidak tertutup kemungkinan selama masa istirahat, aku membuka hati untuk perempuan lain. Begitu juga denganmu.

Sedekah dan Sepasang Suami Istri

Gambar
            Seperti biasa, bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Tapi habis mandi aku tidak menolong ibu membersihkan tempat tidurku, tapi bersegera untuk Shalat Shubuh dulu, hehe. Aku pun menjalani hari dengan sangat biasa. Salam salim sama ibu asrama, memanaskan mesin motor sambil menunggu teman turun dari lantai 4, pamit sama satpam di tempat parkir, masuk ke labor microteaching dan pura-pura menjadi siswa dari pagi hingga sore hari.             Membosankan bukan? Untunglah aku punya jurus jitu untuk menghilangkan kejenuhan yaitu membaca dan menulis. Pagi ini dikala rutinitasku sebagai siswa SMA jadi-jadian dimulai, tiba-tiba aku teringat dengan legenda sepasang suami istri yang didatangi malaikat. Bagi temans yang belum pernah membaca atau mendengarnya, aku ingin mengulas kembali dalam catatanku. Begini ceritanya.

Stoilovemetri

Gambar
Edisi Khusus Jalan-Jalan   Jika di kimia punya stoikiometri, aku pun tak mau kalah. Aku perkenalkan stoilovemetri. Hahaha, tawaku ala nenek lampir sambil tetap mencoba konsentrasi pada rumus-rumus, angka-angka dan bagan-bagan yang tertera pada layar laptopku. Ini perihal LKS stoikiometri yang kurancang dengan menerapkan komponen contextual teaching learning (khekhe, keren sekali bukan? tapi ntah apa-apa). Sebagai informasi, aku mengerjakannya sampai sepertiga malam yang hening. Mengingat besoknya jalan-jalan, aku harus sudah lepas dari jeratan stoikiometri. Cukup stoilovemetri yang menjeratku. Batusangkar, I’m coming.

Buruk

Gambar
Edisi Khusus Jalan-Jalan             Akhir-akhir ini, aku sering menjelma menjadi bentuk yang sulit kuterka. Jalan jalan sabtu lalulah aura penjelmaan itu semakin kuat kurasakan. Aku terjebak dalam kalimat yang kuhafal betul yaitu sangat mudah merusak satu hari, cukup dengan marah di pagi hari. Dan juga menerobos paksa kata sandi yang kukunci betul yaitu marah hanya berakhir dengan malu .

Malam Minggu yang Berharga

Gambar
Edisi Khusus Jalan-Jalan             Aku menyukai jalan-jalan sesuka aku menyukai buku. Kemana saja, asalkan bukan tempat yang pernah kukunjungi. Namun, ada kalanya tempat yang sama perlu dikunjungi berkali-kali tergantung bersama siapa aku pergi. Seperti sabtu lalu, aku dan teman sekelas PPG kimia jalan-jalan melalui rute Padang-Solok-Batusangkar-Bukit Tinggi-Padang Panjang-Padang. Kami berlapang-lapang empat belas orang dalam dua mobil, enam belas tepatnya termasuk supir. Tempat yang biasa tentunya bagiku namun berbeda dengan teman sekelasku yang berasal dari Medan dan Aceh. Kuberharap, semoga alam Sumatera Barat memberi kesan tersendiri bagi mereka.