Postingan

Cinta Sama Dengan Nol (21)

Gambar
  Cinta Sama Dengan Nol Penulis : Santi Syafiana, S.Pd Berpisah berpisahlah, tapi tidak hari ini. Asty memulai pidato perpisahannya dengan quote tersebut. Aura kesedihan dan kehilangan meliputi wajah guru dan siswa di ruangan tersebut. Sesekali Asty berhenti di beberapa bagian pidatonya. Ia seolah sedang mengumpulkan kesiapan yang tersisa dari dirinya untuk menyambut perpisahan. Beberapa anak menangis sesegukan. Asty menyemangati mereka bahwa berpisah bukan berarti tidak akan berjumpa selamanya. “Ayo bertemu kembali ketika kalian sukses,” pinta Asty yang disambut anggukan dari para siswa. “Ibu memang tidak mengajar di sini lagi namun ilmu yang pernah ibu berikan harap terus diaplikasikan demi impian yang pernah kita tulis bersama-sama dulu,”  tambah Asty. Semuanya mengangguk-angguk lagi. Setelah acara perpisahan selesai, Asty dibawa anak-anak ke ruang belajar. Setiba di kelas mereka langsung membentuk barisan yang rapi. Miza dan Adit memetik senar gitar serentak. Alunan...

Cinta Sama Dengan Nol (20)

Gambar
 Surat dari Leiden Penulis : Santi Syafiana, S.Pd Asty sedang sibuk membaca tugas mengarang siswa di mejanya. Ia tersenyum bahagia. Kemampuan Bahasa Inggris mereka dalam meramu setiap kata menjadi cerita yang menarik, patut diacungi jempol. Jauh berbeda dari awal mula jumpa. Pemakaian tobe saja belum tahu. Apalagi pengucapannya, antah barantah. Tak terasa setahun sudah Asty membersamai mereka dalam hal mendidik, mengajar dan menggali ilmu pengetahuan. Syahdu keharuan merembes di hatinya. Rasa sedih pun perlahan ikut merambat relung-relung jiwa. Dalam hitungan hari, masa baktinya habis. Ia harus kembali ke kampung halaman. “Bu Asty, kok termenung?”Bu Rani ternyata sudah sejak tadi berada di samping Asty. “Oh maaf Bu, saya sedang periksa tugas anak-anak!” Asty jadi gelagapan.  “Oo ya sudah. Ini ada surat Bu. Tadi Pak Pos mengantarnya ke sekolah saat  Bu Asty di kelas.” Bu Rani menyodorkan surat beramplop merah jambu ke tangan Asty. “Surat? Oh ya, ter...

Cinta Sama Dengan Nol (19)

Gambar
Pemburu Literasi Penulis : Santi Syafiana, S.Pd Asty mengendap-ngendap dari satu pohon ke pohon lain. Dari satu pot bunga ke pot bunga lainnya. Ia membungkuk-bungkuk di taman kelas itu sambil menyelipkan gulungan kertas di tempat-tempat yang tersembunyi. Ada juga yang ia tanam di dalam tanah. Hari ini ia berencana untuk menanamkan budaya gemar membaca melalui permainan yang ia namakan “kata Bersembunyi”. Gulungan kertas itu berisi beberapa kata yang harus anak-anak temukan dari buku bacaan yang diintruksikan di dalamnya. Asty sengaja mengemas cara merangsang minat baca ini melalui permainan agar anak merasa sedang berkompetisi sehingga semangat menyelesaikan bacaannya. Karena, ada poin-poin yang harus mereka kumpulkan setiap sukses menyelesaikan sebuah misi. Agar mereka tidak hanya mencari kata saja tanpa membaca secara utuh semua isi buku. Namun ada teka teki yang harus mereka selesaikan untuk setiap kata yang mereka temukan. Sebagai tiket untuk masuk ke babak selanjutnya hingg...

Cinta Sama Dengan Nol (18)

Gambar
 Jambo Penulis : Santi Syafiana, S.Pd Selepas shalat subuh Asty sibuk berkemas-kemas. Ia memakai pakaian olahraga. Memasukkan makanan, minuman dan perlengkapan shalat ke dalam tas. Asty dan dua belas siswanya akan mendaki ke bukit belakang sekolah. Asty sangat bersemangat karena ini adalah pendakian pertamanya. Kata orang, belum keren kalau belum mendaki gunung. Walau ini baru bukit sih. Tidak setinggi gunung. Tapi tak apalah, pengalaman adalah guru yang berharga. Sebenarnya mendaki bukit ini adalah ide Miza. Ia ingin memperlihatkan kebunnya.Tak berapa lama, motor Miza terdengar dari depan rumah. Asty segera berangkat dengan sebelumnya menyalami Pak Bahar dan Bu Juli. “Fia ikut Kak ya?” Fia merajuk sejak semalam. Asty hanya bisa menggelengkan kepala karena Fia tidak dapat izin dari Pak Bahar maupun Bu Juli. “Yang lain sudah kumpul semua Miza?” “Sudah Bu,” “Kita parkir di sekolah ya?” “Ya Bu,” Miza menjawab pendek-pendek saja. Anak ini benar-benar pendiam. “Oke, let’s g...

Cinta Sama Dengan Nol (17)

Gambar
 Kata Berantai Penulis : Santi Syafiana, S.Pd “ Kak , bangun Kak,” Fia menggoyang-goyangkan tubuh Asty. Asty langsung tersentak bangun. “Jam berapa sekarang Fia?” “Udah hampir setengah enam pagi Kak,” “Astaghfirullah, Kakak telat shalatnya,” Asty segera ke kamar mandi mengambil air wudhu. “Wah, tumben Fia cepat bangunnya. Biasanya kakak yang bangunin?” Asty memuji perkembangan baik Fia. “Hehe, Fia ulangan Kak. Baru mulai belajar.” “Fiaa. . .”Asty mengusap-usap kepala Fia. “Kan udah kakak bilang belajar itu gak bisa sistem kebut sepagi gitu. Harus disiapkan setidaknya satu atau dua hari sebelumnya.” Kebiasaan seperti itu sebenarnya bukan Fia saja. Rata-rata siswa di kelasnya seperti itu. Asty selalu mewanti-wanti akan kebiasaan salah tersebut. Fia hanya cengengesan sambil membaca catatannya. Di sekolah ia sering mengajak siswanya berfikir logis, kenapa sistem kebut tidak membantu mereka menyelesaikan soal ulangan. Ia selalu menjelaskan kerja otak manusia yang terdi...

Cinta Sama Dengan Nol (16)

Gambar
  Dream List   Penulis : Santi Syafiana, S.Pd Asty mendengar anak-anak menyanyikan lagu the climb di mana-mana. Di gerbang sekolah, taman, kantin atau ketika waktu istirahat. Asty senang melihat perkembangan mereka. Walau masih terdengar aneh, asal dan sumbang. Hal ini dikarenakan untuk memulai pelajaran, setelah membaca doa mereka harus bernyanyi terlebih dahulu. Untuk membiasakan pengucapan Bahasa Inggris dan memberi semangat belajar. “Makin hari kamu makin bagus ya nyanyinya.” Asty memuji. “Nah nyanyinya sudah, sekarang Ibu ingin kamu mengaplikasikan nyanyi itu dalam keseharian kita.” Semua siswa saling menatap. Mereka bingung dengan yang Asty katakan. “Maksud ibu, setiap kita harus memiliki mimpi dan bersama-sama menggapainya.” Kelas hening, mereka belum juga paham. “Oke sekarang Ibu bertanya apa impianmu, ibu mulai dengan impian ibu.” “Impian ibu kan jadi guru. Bukankah sudah tercapai Bu?” tanya Zia. “Oh ini impian ibu sebelumnya. Sekarang ibu harus memiliki impia...

Cinta Sama Dengan Nol (15)

Gambar
 Pendakian Oleh : Santi Syafiana, S.Pd Seminggu di sekolah Asty tidak mengajarkan materi pelajaran seperti seharusnya. Ia sibuk memperhatikan, berbaur, mengenal lebih dekat untuk menganalisis apa penyebab rendahnya mutu pendidikan anak-anaknya. Kemampuan bahasa mereka baik Inggris maupun Indonesia masih tergolong rendah. Walau ada anak yang menonjol seperti Zia. Tapi tetap saja pengetahuan Zia masih jauh ketinggalan dibanding siswa di kota. Afdal masih terbata-bata berbicara Bahasa Indonesia meski mengerti jika orang lain mengucapkannya. Fahmi suka mengganggu teman. Membaca adalah hal yang paling tidak dia suka. Miza sangat pendiam. Asty paling kesulitan berinteraksi dengannya. Dia suka menjawab pertanyaan hanya dengan senyuman. Mungkin karena dia merasa sangat tampan. Kata Rasyid, semua siswa dari kelas X hingga XII mengakui dialah yang paling tampan di sekolah itu. Asty hanya mengangguk membenarkan. Aris, Jefri, Dani, dan Adit cukup riang. Walau kadang-kadang suka membuat onar ...