Postingan

Cinta Merekah di Bumi Serambi Mekah

Gambar
Judul                    : Indonesia Kecil di Negeri Serambi Mekah Pengarang           : Abdurrahman Ali Penerbit               : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Versi e-book        : rumahbelajar.id Cetakan               : I, 2018 Tebal                    : 200 Halaman Pertama kali aku menginjakkan kaki di negeri serambi mekah ini adalah pada tahun 2011. Kala itu aku bersama kru Ganto , Surat Kabar Kampus (SKK) Universitas Negeri Padang (UNP). Kami mengadakan studi banding ke Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Detak Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Mengenang Minang Lewat Sambalado Cangkuak

Gambar
Judul                   : Kuliner Langka Minangkabau Pengarang           : Gantino Habibi Penerbit               : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan                               Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Versi e-book        : rumahbelajar.id Cetakan               : I, November 2018 Tebal                    : 68 Halaman Orang Minang terkenal dengan budayanya merantau. Kebiasaan ini juga kuikuti. Walau bertumbuh di ranah Minang dari bayi ...

Sense Of Love

Gambar
Aku sudah lama tidak jatuh cinta. Sekira dua tahun lamanya. Agar aku tidak lupa rasanya cinta, adikku menyarankan agar sering-sering tidak membawa kelengkapan berkendara saat melewati jalur tertib lalu lintas. Kata dia, jantung yang deg-degan tak seirama saat polisi mendekat, menginterogasi lalu menilang, itulah yang dinamakan cinta. Aku membenarkan begitu saja. Apalagi temanku juga mengingatkan kalau bisa jadi indra pencintaku tumpul atau mati rasa. Kedengarannya jadi semakin mengerikan. Bisa-bisa aku divonis stadium akhir jika tidak segera menajamkan kembali indra yang sangat penting ini. Oleh karena itu, aku mengubah genre buku bacaanku dengan tema cinta-cintaan. Semoga menjadi salah satu cara yang manjur dan efektif untuk mengobati penyakit ini. Sambil bersenang-senang tentu saja.

Yang Mampu Membunuhmu

Gambar
“Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri”. Koleksi ke-empatku dari buku karya Bernard Batubara. Kali ini judulnya membuatku menduga-duga. Dalam kondisi not delicious body aku membuka halaman pertama masih dengan hati menduga-duga. Aku rasa aku akan mencium anyir darah, air mata dan luka yang mendalam usai membaca. Sesuatu yang tak kutemukan dalam buku sebelumnya. “Milana” dan “Surat untuk Ruth” bertema penantian panjang akan cinta. Tentang harapan yang bergelantungan sebab cinta. Begitupun dalam “Cinta.” ada cinta berbunga dengan ending tidak membuat kesal. Buku ini masih dengan topik sama walau sepertinya akan mengulik sisi gelapnya tanpa ampun.

Ayah

Gambar
Speechless . Awesome . Aku jarang menemukan novel yang tiap bagiannya seperti puzzle berserakan. Plot maju mundur dengan sentuhan lokal dan gaya bertutur melayu yang cukup kental. Jika pembaca tidak awas dari awal, novel ini menjadi kumpulan kata-kata terpisah yang membosankan. Aku bahkan sering skimming dari bagian awal hingga memasuki akhir cerita. Ada begitu banyak nama yang bermunculan. Jika dihitung-hitung mungkin sampai lima puluhan lebih. Aku tidak mengerti peran masing-masing tokoh sebagai penguat dan penghubung cerita. Siapa ayah yang dijadikan judul besar di cover buku. Siapa tokoh utama? Apa hubungan tokoh satu dengan yang lainnya. Belum selesai pertanyaanku terjawab, muncul lagi tokoh-tokoh lain yang tidak kupahami mengapa dia harus diceritakan.

Satu Tahun Dunia Kami

Satu tahun yang lalu Dek Cantya lahir ke dunia. Denyut jantung pertamanya mengalihkan dunia kami padanya. Ia tumbuh menjadi anak yang menakjubkan. Tangannya sudah bisa melambai, menggoyangkan telunjuk tatkala diserukan No!No!No!. Juga, bertepuk tangan jika disorakkan hore. Kakinya sudah berjalan ke sana kemari dengan gagah berani. Tak lagi diiringi kidung sebulan yang lalu, jatuh bangun aku mengejarmu. Semenjak dua giginya muncul perlahan dari gusi bawah, kepandaian Dek Cantya makin bertambah. Ia bisa menghambur ke pelukan jika mendengar suara keras sembari mencari daging segar yang bisa dikunyah-kunyah. Ia berperan aktif dalam mengacak-acak benda-benda yang sudah damai di tempatnya. Ia juga terampil dalam buntut membuntuti. Kendati sudah berjinjit, mengendap-endap laksana maling, Ia tetap bisa melacak niat bundanya yang hendak beranjak. Uhft, Ia kepo sekali.

Batu Lado dan Kenangan

Gambar
Ternyata batu lado itu adalah Sehidup Sesurga. Karya Fahd Pahdepie. Bagi yang lupa sejarah batu lado, sila ingat ingat dulu komen komen fhoto yang ogud posting beberapa bulan lalu. Lahirnya batu lado berawal dari siasat jitu. Fhoto yang diembeli pertanyaan “Siapakah di antara mereka yang pertama kali menikah?” adalah ketika persiapan pernikahan ogud. Bwhaha. . .sudah sudah, kembali ke topik. Membuka halaman pertama serasa telah menyelesaikan semua isi buku. Dua ucapan selamat bertengger di sana. Terenyuh. Apalagi lengkap dengan penulisan M.Pd setelah nama pengirim. Paralu yo Bes?